Selasa, 03 Januari 2012

PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD


Pengertian Aktiva
        Aktiva ialah kekayaan perusahaan yang berwujud dan tidak berwujud, serta pengeluaran yang belum dialokasikan atau biaya yang masih harus dialokasikan pada penghasilan yang akan datang. Selanjutnya marilah kita perhatikan pengertian aktiva menurut beberapa orang ahli :
        Menurut Dra. Lanita winata, Akuntan (1994, hal 55) menjelaskan : “Aktiva ialah Sejumlah kekayaan atau sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu perusahaan berupa uang, barang dan hak yang timbul dari transaksi-transaksi yang terjadi di masa lampau dan dapat memberikan manfaat di masa yang  akan datang”.
        Menurut Standar Akuntansi Keuangan, dalam kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan (2002, hal 13, paragraf 49) menjelaskan : “Aktiva ialah Sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan diperoleh oleh perusahaan”.
        Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa, Aktiva ialah Kekayaan atau sumber-sumber daya yang dimilki dan dikuasai oleh perusahaan sebgai akibat dari transaksi-transaksi yang terjadi di masa lampau dan diharapkan akan memberi manfaat di masa yang akan datang.

Penggolongan Aktiva
1.      Aktiva lancar ialah Uang kas atau aktiva lain yang diharapkan dapat dicairkan menjadi uang tunai dalam periode berikutnya. (paling lama satu tahun).  
Yang termasuk dalam aktiva lancar ialah :
a.       Kas, uang tunai untuk membiayai operasi perusahaan
b.      Investasi Jangka Pendek, investasi yang sifatnya sementara, hanya untuk memanfaatkan uang  yang belum dibutuhkan dalam operasi.
c.       Piutang Wesel, tagihan perusahaan kepada pihak lain yang dinyatakan dalam perjanjian yang diatur dalam undang-undang.
d.      Piutang Dagang, tagihan kepada pihak lain sebagai akibat penjualan barang dagangan secara kredit.
e.       Persediaan, baik persediaan bahan mentah, barang dalam proses maupun barang jadi.
f.       Piutang penghasilan, penghasilan yang sudah menjadi hak perusahaan, tetapi belum diterima pembayaraannya.
g.      Persekot / uang muka / biaya dibayar di muka, pengeluaran untuk memperoleh jasa / prestasi dari pihak lain. Pengeluaran itu belum menjadi biaya periode sekarang, melainkan pada periode berikutnya.
2.      Aktiva tidak lancar ialah tidak berupa kas dan mempunyai jangka waktu yang panjang.
Yang termasuk dalam aktiva tidak lancar ialah :
a.       Investasi Jangka Panjang, investasi ini dilakukan jika perusahaan mempunyai kekayaan lebih dari yang dibutuhkan.
b.      Aktiva Tetap, kekayaan yang dimiliki perusahaan yang secara fisik tampak, dan turut berperan dalam operasi perusahaan secara permanen; selain itu juga mempunyai umur ekonomis lebih dari satu periode dalam kegiatan perusahaan.
c.       Aktiva Tetap Tidak Berwujud, kekayaan yang perusahan yang secara fisik tidak tampak, tetapi merupakan suatu hak yang mempunyai nilai dan dimiliki oleh perusahaan untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan.
d.      Beban yang Ditangguhkan, transaksi yang menunjukan adanya pengeluaran atau biaya yang mempunyai manfaat jangka panjang.
e.       Aktiva Lain-Lain, item ini menunjukkan kekayaan atau aktiva perusahaan yang tidak dapat atau belum dapat dimasukan dalam klasifikasi-klasifikasi yang telah diuraikan sebelumnya.

Pengertian Aktiva Tetap
Aktiva tetap ialah aktiva tetap berwujud yang mempunyai nilai guna ekonomis jangka panjang, dimiliki perusahaan untuk menjalankan operasi guna menunjang perusahaan dalam mencapai tujuan, dan dimiliki perusahaan tidak untuk dijual kembali agar diperoleh laba atas penjualan tersebut. Selanjutnya marilah kita perhatikan pengertian aktiva tetap berwujud yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli.
Ø  Menurut Zaki Baridwan (1992, hal 271) mejelaskan “Aktiva tetap berwujud yang sifatnya  relatif permanen (menunjukan sifatbahwa aktiva yang bersangkutan dapat digunakan dalam jangka waktu yang relatif cukup lama) yang digunakan dalam kegiatan perusahaan”.
Ø  Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002, No.16.2 paragraf  05) “Aktiva tetap adalah aktiva tetap berwujud yang dipergunakan dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun”.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan sifat-sifat aktiva tetap berwujud yaitu ; digunakan dalam operasional perusahaan, tidak untuk diperdagangkan, umur ekonomi lebih dari satu tahun yang sifatnya relatif tetap atau permanen dan berwujud fisik, artinya dapat dilihat dan dirasakan  dengan panca indera.

Aktiva Tetap Dapat Digolongkan Dalam Berbagai Sudut,  yaitu :
a.       Sudut Substansi, Aktiva tetap dapat dibagi:
1.      Tangible Assets atau Aktiva berwujud seperti Lahan, Mesin, Gedung dan Peralatan.
2.      Intangible Assets atau Aktiva yang tidak berwujud seperti HGU, HGB, Goodwill, Patents, Copyright, Hak Cipta, Franchise, dan lain-lain
b.      Sudut Disusutkan Atau Tidak
1.      Depreciated Plant asset yaitu aktiva tetap yang disusutkan seperti Building (Bangunan), Equipment (Peralatan), Machinary (Mesin), Inventaris dan lain-lain.
2.      Undepreciated Plant Asset yaitu aktiva yang tidak dapat disusutkan seperti Land (Lahan).
c.       Berdasarkan Jenis
Aktiva tetap berdasarkan jenis dapat dibagi sebagai berikut :
1.      Lahan
Lahan adalah bidang tanah yang terhampar baik yang merupakan tempat bangunan maupun yang masih kosong. Dalam akuntansi apabila ada lahan yang didirikan bangunan di atasnya harus dipisahakan pencatatannya dari lahan itu sendiri.
Khusus bangunan yang dianggap sebagai bagian dari lahan tersebut atau yang dapat meningkatkan nilai gunanya, seperti riol, jalan dan lain-lain maka dapat digabungaka dalam nilai lahan.

2.      Bangunan Gedung
Gedung adalah bangunan yang bersiri di atas bumi ini baik di atas lahan/air. Pencatatannya harus terpisah dari lahan yang menjadi lokasi gedung itu.
3.      Mesin
Mesin termasuk peralatan-peralatan yang menjadi bagian dari mesin yang bersangkutan.
4.      Kendaraan
Semua jenis kendaraan seperti Alat pengangkutan, truck, grader, tractor, froklift, mobil, motor dan lain-lain.
5.      Perabot
Dalam jenis ini termasuk perabot kantor, perabot pabrk yang merupakan isi dari suatu bangunan.
6.      Inventaris / Peralatan
Peralatan yang dianggap merupakan alat besar yang dgunakan dalam perusahaan seperti inventaris kantor, inventaris pabrik, inventaris laboratorium, inventaris gudang dan lain-lain.
7.      Prasarana
Di Indonesia adalah merupakan kebiasaan bahwa perusahaan membuat klasifikasi khusus prasarana seperti jalan, jembatan, riol, pagar dan lain-lain.

Pengertian Penyusutan
Penyusutan yang dikemukakan oleh beberapa orang ahli ialah:
Ø  Menurut Mas’ud Machfoedz (1990, hal 109) menjelaskan: “Penyusutan adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap kedalam penghasilan selama umur ekonomis yang diperkirakan.
Ø  Menurut Bamabang Susanto (1995, hal 241) menjelaskan : “Penyusutan adalah suatu cara pengalokasian sebagian dari harga perolehan aktiva tetap (cost) menjadi biaya pada setiap periode akuntansi
Ø  Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2002, No.17.1 paragraf 02) menjelaskan: “Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa penyusutan adalah alokasi jumlah aktiva yang dapat disusutkan berdasarkan harga perolehannya pada periode yang mendapatkan manfaat dari aktiva tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penyusutan
Menurut Mas’ud Machfoedz (1990, hal 110) ada beberapa faktor yang mempengaruhi adanya penyusutan, faktor-faktor tersebut dikelompokan menjadi dua, yaitu:
1.      Faktor-faktor yang dapat diperkirakan di muka, seperti umur ekonomis penggunaan aktiva tetap, teknologi, mode, keausan aktiva, merupakan faktor pokok yang harus digunakan dalam menetukan metode penyusutan.
2.      Faktor-faktor yang tidak dapat diperkirakan di muka, seperti bencana alam, undang-undang baru, dan lain-lain, bukan merupakan faktor penentu dalam mengambil kebijaksanaan penyusutan.

Faktor-Faktor yang Menentukan Penyusutan
Jumlah yang dibebankan sebagai penyusutan ditentukan oleh adanya empat faktor, yaitu:
1.  Harga Perolehan
Harga perolehan adalah seluruh pengeluaran untuk memperoleh suatu aktiva tetap sampai aktiva tetap tersebut siap digunakan untuk beroperasi. Jumlah tersebut merupakan jumlah harga perolehan suatu aktiva.

      2. Umur Ekonomis
Umur ekonomis suatu aktiva adalah perkiraan jumlah waktu suatu aktiva  tetap dapat digunakan dan masih memberikan hasil yang layak (ekonomis).Umur ekonomis dibatasi sampai dengan saat suatu aktiva tetap diperkirakan sudah tidak ekonomis lagi apabila digunakan, misalnya apabila digunakan biaya perawatannya lebih besar dibandingkan dengan hasil yang diberikan oleh aktiva tetap tersebut.
Jadi, yang dimaksud dengan umur ekonomis ini tidak menuggu sampai suatu aktiva tetap secara fisik tidak dapat digunakan. Hal ini berbeda dengan umur teknis yang mengaitkan umur suatu aktiva dengan dapat atau tidaknya dioperasikan.
3.   Nilai Sisa
Nilai sisa adalah perkiraan nilai jual aktiva tetap pada akhir pemakaian atau pada akhir umur ekonomisnya. Nilai sisa ini akan menentukan jumlah suatu obyek yang akan disusut.
       4.  Metode Penyusutan
Faktor keempat yang mempengaruhi jumlah penyusutan periodik adalah metode yang digunakan oleh perusahaan Untuk menetukan metode apa yang akan digunakan oleh perusahan, perusahaan harus menghubungkan dengan faktor-faktor ekonomi di atas, misalnya keausan, teknologi dan sebagainya.

PENGAWASAN PRODUKSI TERHADAP KUALITAS PRODUKSI


Arti dan Peranan Pengawasan Produksi
Setiap pimpinan perusahaan mengemban tanggung jawab untuk melaksanakan rencana dan tujuan perusahaan dimana ia bekerja sesuai dengan kedudukan, bidang, dan wewenang yang diperoleh. Jadi dalam melaksanakannya seorang manajer harus dapat memahami manajemen dengan baik. Sehubungan dengan itu penulis ingin memberikan definisi manajemen menurut Jamees A.F. Stoner dan Charles Wenkel (1992 : 4) sebagai berikut :
            Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan proses penggunaan semua lain-lain sumber daya organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi yan telah ditetapkan.
            Adapun tujuan perusahaan secara garis besar dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.      Berproduksi dengan sukses.
2.      Berproduksi dengan ekonomis.
3.      Berproduksi dengan dapat menyelesaikan pembuatan barang atau jasa tepat pada waktunya.
4.      Berproduksi dengan harapan memperoleh keuntungan.
Salah satu proses operasional yang penting dalam aspek produksi untuk mencapai tujuan perusahaan tersebut adalah dengan pengawasan produksi (production control).  Pengawasan tidak dapat diadakan tanpa adanya perencanaan, sebaliknya perencanaan dapat dilakukan tanpa pengawasan. Hanya dalam hal yang disebut terakhir maka pelaksanaan rencana yang telah digariskan tidak dapat dijamin. Pengawasan berusaha untuk memberikan agar pelaksanaan rencana itu sesuai dengan apa yang telah ditentukan.
            Dimuka telah dinyatakan bahwa pengawasan tidak dapat dipisahkan dari rencana atau tujuan tertentu, maka dalam pengawasan perlu diketahui :
1.      Tujuan yang telah ditetapkan.
2.      Cara menilai atau mengukur aktivitas yang dijalankan.
3.      Cara membandingkan aktivitas dengan pedoman yang telah ditentukan.
4.      Cara untuk mengadakan perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi agar tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai.
Dalam suatu kegitan produksi di suatu perusahaan mungkin saja terjadi penyimpangan atau kesalahan dari apa yang diharapkan atau direncanakan sebelummnya. Dengan adanya pengawasan produksi maka dapat dicari sebab-sebab timbulnya penyimpangan, berapa besar penyimpangan dan kesalahan tersebut dan kemungkinan-kemungkinan untuk memperkecil dan menghindari serta mencari kemungkinan tentang dasar-dasar perbaikan atas penyimpangan-penyimpangan tersebut.
Adapun yang dimaksud dengan pengawasan menurut George R. Terry (1980 : 23) adalah
 mengukur pelaksanaan dengan tujuan-tujuan , menentukan sebab-sebab    penyimpangan dan mengambil tindakan-tindakan korektif dimana perlu.
Definisi lain mengenai pengawasan antara lain menurut Sofjan Assauri (1980 ;120), pengawasan adalah
 kegiatan pemeriksaan dan pengendalian atau memastikan apakah kegiatan produksi dapat mencapai hasil yang memuaskan sesuai dengan tujuan perusahaan.
Pengawasan produksi merupakan kegiatan yang terdiri dari sekumpulan prosedur yang dengan baik digariskan bertujuan mengkoordinasikan semua unsur-unsur dalam proses produksi, manusia, mesin, alat-alat (tools) dan material kedalam arus yang lancar untuk dapat menghasilkan outpit (product) dengan kemungkinan sedikit sedikit sekli interruption, dalam waktu yang secepat mungkin dan dengan pengorbanan biaya yang sekecil-kecilnya.
Sedangkan menurut Harsono (1984 ; 87) dinyatakan bahwa :
 pengawasan produksi tidak semata-mata dimaksudkan untuk mengawasi produk yang jadi, tetapi pengawasan dimulai sejak dari persediaan bahan mentah sampai barang jadi.
            Pengawasan produksi dapat dikatakan menyerupai tata kerja otak manusia mengawasi tata persyaratan di dalam tubuh. Demikian pula pengawasan produksi yang mengatur kegiatan manufacturing sehingga schedule yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan efisien.
            Menurut Cloude S. George (1991 ; 263) pengawasan produksi adalah mempercepat dan mengawasi pekerjaan melalui suatu pabrik, hingga pekerjaan bergerak dari satu departemen ke departemen lain secara sistematis tanpa adanya kelambatan dengan kemacetan-kemacetan yang minimum.
            Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengawasan produksi merupakan suatu kegiatan pengawasan yang dimulai sejak penyediaan bahan mentah sampai barang jadi bertujuan mengkoordinasikan semua unsur-unsur dalam proses produksi
 untuk dapat menghasilkan produk dalam waktu yang tepat dan ongkos yag minimum.
            Perusahaan yang melaksanakan fungsi pengawasan produksi ini akan memperoleh beberapa keuntungan antara lain :
1.      Dapat membantu tercapainya operasi produksi yang efisien.
2.      Membantu merencanakan prosedur pengerjaan yang kacau dan sembarangan menjadi lebih sederhana.
3.      Tercapainya kegiatan yang dibutuhkan pada titik yang minimum, sehingga dapat dilakukan penghematan dalam penggunaan tenaga kerja dan bahan.
Jadi pengawasan produksi membantu pelaksanaan operasi produksi agar lebih efisien dan lancar dengan biaya yang minimal pada tingkat hsil tertentu.
            Untuk menjaga ketepatan waktu penyerahan dan kegiatan operasi yang ekonomis, maka banyak manajer mengadakan suatu pengawasan produksi dan memberinya tanggung jawab untuk mengetahui keadaan seluruh pesanan dalam pabrik dan mengkoordinasi sluruh aspek-aspek pengerjaannya dari saat diterimanya pesanan itu sampai siap untuk diserahkan pada langganan.
Secara umum tujuan dari pengawasan produksi adalah :
1.      Acceptance good, yang berarti bahwa pengawasan produksi menghendaki agar pabrik dapat memproduksi barang yang diterima oleh konsumen, baik kualitas maupun kuantitas, yang berarti selera konsumen akan terpenuhi.
2.      On time, artinya pengawasan produksi menghendaki agar pelaksanaan ktivitas produksinya dapat dilakukan tepat pada waktunya. Secara praktis        pelaksanaan aktivitas produksi yang tepat ini akan memberikan jaminan adanya penyerahan produk pada konsumen dengan tepat.
3.      Economically, yaitu pembuatan barang oleh perusahaan harus ekonomis, ini berarti akan menimbulkan konsekuensi bagi perusahaan agar dapat mengalokasikan biaya-biaya produksinya secara seimbang dan efisien.
Dalam pengawasan produksi empat fungsi utama yang perlu diperhatikan yaitu :
1.      Routing
Yaitu fungsi yang menentukan dan mengatur urutan-urutan operasi yang akan dilalui, dimulai dari bahan hingga barang itu selesai dikerjakan menjadi barang jadi. Routing ini merupakan dasar dari fungsi scheduling dan dispatching.


2.      Schedule
Merupakan usaha menentukan urut-urutan operasi yan akan dilalui, sehingga dapat dilakukan pengalokasian bahan baku, bahan pembantu serta fasilitas lainnya dan kapan pekerjaan-pekerjaan itu harus selesai.
3.      Dispatching
Yaitu pemberian perintah-perintah kepada para pekerja yang telah ditentukan untuk mengerjakan aktivitas tertentu. Perintah-perintah ini berasal dari order set yang telah disusun sebelumnya.
4.      Follow-up
Follow-up merupakan fungsi penelitian dan pengecekan terhadap semua aspek yang mempengaruhi kelancaran kegiatan produksi.
Jenis-Jenis Pengawasan Produksi
Kita mengenal beberapa jenis pengawasan yang mempunyai perbedaan-perbedaan nyata. Menurut Sofjan Assauri (1980 ; 156) jenis-jenis pengawasan tersebut antara lain :
1.      Pengawasan Pesanan (Order Control)
Pengawasan pesanan biasanya digunakan dalam proses produksi terputus-putus (intermittent procces). Tujuan utama pengawasan pesanan adalah mengerjakan dan menyelesaikan suatu pesanan tertentu. Seluruh pekerjaan terdiri dari kumpulan pekerjaan, merupakan suatu pesanan. Pesanan ini dapat dari pembeli atau bagian yang mengurus persediaan.
Jadi yang dimaksud dengan order kontrol yaitu pengawasan produksi yang dilakukan terhadap produk yang dikerjakan sehingga produk tersebut sesuai dengan keinginan pemesan, baik mengenai bentuk, jenis dan kualitasnya

2.      Pengawasan Arus (Flow Control)
Pengawasan arus yaitu pengawasan produksi yang dilaukan terhadap arus kerja, sehingga dapat menjamin kelancaran proses pengerjaan.
Jenis pengawasan ini digunakan dalam produksi yang terus menerus dalam pabrik. Tujuan utama pengawasan ini adalah mengusahakan agar tercapai tingkat hasil yang konstan setiap jamnya.
            Setelah diketahui pada hakekatnya jenis produksi yang ada dibagi dalam dua kelompok besar yaitu jenis produksi persediaan dan jenis produksi pesanan maka jika dihubungkan dengan fungsi-fungsi perencanaan dan pemgawasan produksi dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut :
1.      Bahwa fungsi perencanaan merupakan prioritas utama yang perlu dilaksanakan dalam jenis produksi untuk persediaan, disusul dengan fungsi follow-up, sedangkan fungsi-fungsi routing, schedule, dan dispatching secara otomatis akan mengikuti karena jalannya produksi sudah tertentu, hal-hal yang perlu dikerjakan secara implisit sudah tersirat dalam proses sehingga tak perlu di skedul dan dikeluarkan perintah-perintah lagi.
2.      Fungsi routing, terutama identifikasi kegiatan, waktu kegiatan, serta urut-urutan kegiatan, persiapan bahan, alat dan personalia merupakan fungsi prima yang perlu ditanggulanggi segera setelah pesanan diterima, disusul dengan kecepatan dan ketepatan membuat skedu-skedul, pemberian perintah-perintah, tergantung pada jenis-jenis pekerjaan serta follow-up. Adapun fungsi perencanan percuma saja dilakukan selama pesanan-pesanan tak dapat diperkirakan terlebih dahulu datangnya baik jumlah, jenis dan waktunya.
Penentuan Standarisasi Produk
Untuk menentukan jumlah produksi yang akan dilaksanakan, maka salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah production standard, yaitu suatu ukuran yang menjadi patokan atau pegangan dalam melaksanakan kegiatan produksi.
Secara umum type standard menurut Agus ahyari (1981 : 221-222) akan dapat menjadi dua bagian :
1.      Technical Standard
Merupakan standar yang berhubungan dengan proses produksi perusahaan misalnya standar bahan baku, standar tenaga kerja dan sebagainya.
2.      Managerial Standard
Merupakan standar yang berhubungan dengan proses administrasi perusahaan, seperti kebijaksanaan perusahaan, prosedur personalia, sistem akuntansi dan lain sebagainya.
Dalam manajemen produksi yang akan dibicarakan lebih mendetail adalah technical standard, karena type standart ini merupakan type standar yang berhubungan dengan proses produksi perusahaan.
      Dalam penyusunan standard produksi terdapat berbagai macam standard yang digunakan perusahaan. Masing-masing jenis standard tersebut berbeda-beda kegunaannya secara langsung, namun semuanya kan saling berhubungan. Penggunaan suatu jenis standard produksi akan mempunyai kaitan dengan jenis standard produksi lainnya. Disamping itu masing-masing jenis standard produksi ini akan saling melengkapi, sehingga penggunaan salah satu jenis standar saja tanpa memperhatikan yang lain akan mengurangi manfaat dari penggunaan standar itu sendiri. Jenis-jenis standar produksi tersebut adalah :
1.      Standar bahan baku
2.      Standar tenaga kerja
3.      Standar peralatan produksi
4.      Standar bentuk, warna dan ukuran
5.      Standar kualitas
Untuk melaksanakan kelima hal tersebut diatas maka diperlikan suatu peramalan produksi (production forecasting). Ramalam produksi ini dibuat dengan alasan adanya pandapatan yang rendah, adanya kemungkinan subsidi, persediaan

barang yang berlimpah atau kemungkinan “under production”. Semuanya perlu dihindari.. Pada hakekatnya tujuan  production forecasting adalah :
1.      Sebagai dasar pembuatan anggaran.
2.      Meminimumkan fasilitas pabrik sebaik-baiknya untuk memproduksi jenis produk dalam jumlah yang optimal.
3.      Meminimumkan persediaan barang jadi.
4.      Meminimumkan investasi modal pada peralatan-peralatan.
5.      Menstabilkan kesempatan kerja sehingga tidak terdapat pertentangan antara manajemen dengan karyawan.
Oleh karena itu banyak faktor yang perklu diperhatikan dalam usaha mengadakan production forecasting dan planing ini, menurut Harsono (1977 ; 2) yaitu :
1.      Faktor extern, terdiri dari :
a.       Keadaan dunia usaha pada umumnya.
b.      Keadaan khusus misalnya fluktuasi sekuler pengaruh pertambahan penduduk, kenaikan/penurunan taraf hidup, fluktuasi musiman, siklus random, persaingan, produk yang dijual (barang mentah atau kosumsi), saluran distribusu, peraturan pemerintah dan lain-lain.
2.      Faktor intern, terdir dari :
a.       Fasilitas produksi.
b.      Lama waktu melakukan kegiatan.
c.       Lama waktu yang dapat ditoleransi bila ada hambatan.
Teknik Pengawasan Kualitas Secara Statistik
Dalam dunia industri, kualitas atau mutu barang yang dihasilkan merupakan faktor yang sangat penting. Barang yang dihasilkan antara lain ditentukan kualitasnya ditentukan pada pengukuran ataupun penilaiian karakteristik-kateristuk tertentu. Hasil pengukuran yang dipakai untuk penentuan kualitas barang nilainya berubah-ubah dari produk yang satu keproduk yang lainnya meskipun kondisi proses produksi dapat diusahakan bersama. Dengan demikian timbulah variasi kualitas.
            Ditinjau dari statistik, ada dua macam variasi kualitas yang dikenal, yaitu :
1.      Bersifat probabilistik, yaitu variasi yang terjadi secara kebetulan dan tak dapat dielakan. Dalam variasi kualitas ini dapat dikatakan bahwa proses berjalan dalam kontrol.
2.      Bersifat eratik, yaitu variasi yang terjadi tidak menentu karena timbulnya penyebab tak wajar. Variasi ini menunjukkan bahwa proses berjalan diluar kontrol, maka harus ditemukan penyebabnya, proses dihentikan dan diperbaiki supaya terjadi proses dalam kontrol.
Untuk dapat melakukan hal-hal tersebut diatas, maka perlu diadakan pengontrolan kualitas. Tehnik pengawasan kualitas secara statistik dikelompokkan dalam :
1.      Metode Control Chart
a.       Untuk mengukur rata-rata
b.      Untuk mengukur variable
c.        Untuk mengukur attribute


2.      Metode Acceptance Sampling
a.       Kurva Operating Characteristic (OC)
b.      Average Outgoing Quality Level (AOQL)
Metode analisa yang digunakan dalam penelitian ilmiah ini dalah metode control chart untuk mengukur attribute, dengan penggolongan dilakukan atas dua kategori atau mungkin lebih, diperlukan diagram kontrol tersendiri jika ingin melakukan pengontrolan kualitas terhadap produk tersebut. Dalam hal ini penulis menggolongkan produk yang dihasilkan kedalam salah satu kategori dari dua kategori, yaitu rusak atau baik. Menurut Sudjana (1996 ; 432-433) ini berarti berhadapan dengan populasi vans berdistribusi binom.
Jika proporsi rusak dari distribusi binom besarnya diketahui dan sama dengan p, maka diagram kontrol dengan dua simpangan baku untuk proporsi p dapat dibentuk oleh garis-garis :
Sentral  =   p
UCL    =  p + 2 p q
                               n

LCL      = p + 2 p q
                                           n

            Dengan n = ukuran tiap sample yang telah diambil, p = rata-rata untuk proporsi barang rusak dalam tiap sample, q = 1 – p

            Hal-hal yang mempengaruhi tingkat pengawasa mutu yang dilakukan tergantung pada faktor-faktor berikut ini :


1.      Kemampuan proses
Batas-batas yang ingin kita capai haruslah disesuaikan dengan kemampuan proses yang ada. Tidak akan ada gunanya kita mengawasi suatu proses dalam batas-batas yang melebihi kemampuan proses yang ada.
2.      Spesifikasi yang berlaku
Spesifikasi dari hasil produksi yang ingin dicapai harus dapat berlaku, bila ditinjau dari segi kemampuan proses tadi dan keinginan atatu kebutuhan konsumen. Dalam hal ini harus dapat dipastikan dulu apakah spesifikasi yang ditentukan tersebut dapat berlaku dari kedua sisi yang dapat disebutkan, sebelim pengawasan mutu pada proses dapat dimulai.
3.      Apkiran/Scrap yang dapat diterima
Tujuan mengawasi suatu proses adalah untuk mengurangi bahan-bahan dibawah standar, bahan-bahan yang terbuang atau bahan-bahan apkiran menjadi seminimal mungkin. Tingkat pengawasan yang dilakukan tergantung banyaknya bahan-bahan yang berada dibawah standar atau apkiran (scrap) yang dapat diterima. Banyaknya produk yang rusak yang dapat diterima harus ditentukan dan disetujiu sebelumnya.
4.      Ekonomisnya kegiatan produksi
Ekonomis atau efisiennya suatu kegiatan produksi tergantung pada seluruh proses-proses yang ada didalamnya. Suatu barang yang sama dapat dihasilkan dengan biaya-biaya produksi yang berbeda, dan dengan jumlah barang-barang apkiran yang berbeda. Tidaklah selalu ekonomis untuk memilih proses dengan
 jumlahbarang apkiran yang sedikit, karena biaya untuk pengerjaan (processing cost ) lebih lanjut mungkin akan lebih mahal.
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Produk
Dalam menjalankan proses produksi setiap perusahaan akan selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang itu berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan mutu produksi. Oleh karena itu diperlukan perhatian dan pertimbangan yang cukup terhadap faktor-faktor produksi yang merupakan pembentuk mutu. Faktor-faktor tersebut menurut Eiji Ogawa (1984 : 234-238) adalah :
1.      Manusia (Man)
Keberadaan manusia sebagai faktor yang sangat penting karena manusia adalah pelaksana dari semua faktor produksi yang ada. Sukses tidaknya pengawasan mutu tergantung pada manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi, sehingga pemebrian motivasi yang baik dan benar akan meningkatkan proses produksi yang dijalankan oleh para karyawan.
2.      Mesin dan peralatan (Machines)
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam proses produksi pada dasarnya adalah untuk membantu meringankan tugas manusia dalam menjalankan aktivitasnya, sehingga dapat menghemat baik waktu, tenaga maupun biaya tetapi produk yang dihasilkan bermutu baik karena mesin dan peralatannya sudah distandarisasi. Dengan demikian baik buruknya mesin dan peralatan yang digunakan akan mempengaruhi efisiensi produksi perusahaan.
3.      Manajemen (Management)
Manajemen merupakan salah satu faktor yang penting karena dalam manjemen itulah manusia atau tenaga kerja direncanakan, diarahkan dan dikendalikan ke arah penciptaan suatu produk yang sesuai dengan standar kualitas. Keadaan ini memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan serta meningkatkan mutu dari produk yang dihasilkan.
4.      Uang (Money)
Tinggi rendahnya biaya pengawasan mutu dipengaruhi oleh tinggi rendahnya biya yang dikeluarkan dalam proses produksi pada umumnya dan pengawasan mutu pada khususnya.
5.      Metode (Method)
Suatu perusahaan harus mampu memanfaatkan secara efektif dan efisien terhadap tenaga kerja, mesin dan biaya dalam rangka memproduksi barang yang sesuai dengan keiginan dan selera konsumen. Untuk itu pihak manajemen akan selalu mengubah metode kerja, sehingga tercapai efesiensi produksi.